“CENTURY” IRONI NEGERI YANG TAK PERNAH BELAJAR


asus Bank Century tak kunjung usai dan menemukan titik terang, itulah kenyataan dari sebuah ironi yang melanda negeri yang besar ini.

Bank Indonesia dan pemerintah tampaknya tak pernah belajar dari sejarah, kasus serupa yang sangat mirip dengan kasus Century yang nyata-nyata pernah terjadi di negeri ini tak pernah dijadikan pelajaran. Aliran dana BLBI sebesar 700 triliun, bahkan ada yang mengatakan mencapai 1000 triliun yang seakan raib tanpa kejelasan tampaknya akan dimakmumi oleh kasus Bank Century ini.

Kasus Century menjadi kado istimewa kemenangan SBY-Boediono pada Pilpres kemarin untuk segenap rakyat Indonesia. Karena selain SBY saat itu tengah menjabat presiden, wakilnya saat ini juga diduga menjadi aktor utama aliran dana bailout sebesar 6,7 triliun karena saat itu Boediono menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, selain Sri Mulyani sebagai menteri keuangan dan ketua KSSK tentunya. Aliran dana Bank Century juga ditengarai terkait dengan beberapa parpol dan tim sukses pemenangan SBY-Boediono. Kado yang terasa amat pahit bagi rakyat.

Kasus Century memang sangat kompleks, dari proses merger 3 bank sebelumnya yang disatukan menjadi Century yang ditemukan banyak kecurangan, pengawasan yang lemah dari Bank Sentral dan berbagai perlakuan khusus bagi Century ini, peraturan-peraturan dari BI yang secara mudah dirubah dengan rapat yang dilakukan tengah malam, keputusan bailout yang ditengarai melanggar hukum dan tanpa persetujuan DPR. Keputusan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik, dan banyak lagi permasalahan lainnya. Beberapa hal diatas muncul ke permukaan setelah diadakannya investigasi terhadap kasus Century di pansus DPR yang berlandaskan audit investigasi BPK.

Penanganan kasus Century oleh pansus DPR yang menelan biaya mencapai 2 triliun rupiah ini juga diwarnai berbagai kontroversi, seperti perang mulut antara Profesor Gayus Lumbun dari fraksi PDI-P, dengan Ruhut “Poltak” Sitompul dari fraksi partai Demokrat. Kedua belah pihak menyampaikan kata-kata yang saya rasa kurang pantas terutama oleh Ruhut. Ruhut kembali berulah dengan mengatakan kepada saksi yang didatangkan pansus untuk tidak menjawab sebuah pertanyaan pansus, dan memanggil saksi mantan wakil presiden Jusuf Kalla dengan sebutan kedaerahan bugis “daeng”. Tragedi menagisnya Miranda Goeltom yang dihadirkan sebagai saksi oleh pansus, Sri Mulyani yang bertasbih saat menjalani sidang sehingga muncul guyonan ketka Sri Mulyani bertasbih, penggantian beberapa anggota pansus dari fraksi PAN dan fraksi PKB yang dianggap terlalu kritis dan mengancam koalisi. Dan banyak lagi hal lain..

Saat ini terdapat dua pendapat mengenai kasus Century, yang pertama menganggap bahwa proses penanganan kasus Century di pansus hanya merupakan proses politik yang dinilai tidak perlu dan lebih merupakan upaya untuk impeachment pemerintahan saat ini, hal ini dilakukan oleh oposisi maupun koalisi yang tidak puas dengan pembagian kekuasaan. Kelompok ini juga mengatakan lebih baik penanganan kasus Century lebih diselesaikan melalui proses hukum. Pendapat ini sejalan dengan pendapat ahli ekonomi senior Wibisono Kristianto. Sedangkan pendapat lain yang diamini oleh ahli ekonomi senior Kwik Kian Gie, menyatakan proses di pansus merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab dari keputusan bailout Century selain melalui proses hukum, mengenai biaya yang tinggi merupakan harga mahal dari demokrasi.

Walaupun saya cukup mengikuti perkembangan kasus Century. sejujurnya saya cukup bingung dengan kasus Century ini, yang jelas semoga kasus Century bisa segera terungkap kebenarannya dan siapa yang bertanggung jawab dapat mempertanggung jawabkan segala perbuatannya dimata hukum, secara politik, dan di mata rakyat. Bank Indonesia sebagai Bank Sentral semakin mempertegas independinsinya melalui kinerjanya. Sehingga tidak terjadi lagi penguapan uang negara seperti pada kasus BLBI, pemerintah dan DPR bekerja sebaik-baiknya dalam segala bidang terutama dalam hal ini ekonomi dan perbankan.

Saya yakin dan tetap percaya Indonesia nanti akan kembali menumbuhkan taringnya dan menjadi “Macan Asia” bahkan “Macan Dunia” yang membuktikan bahwa taringnya tidak ompong.

Bravo Indonesia

Jayalah Indonesia

Buatlah bangga ibu pertiwi

Kepakkan sayap Garudamu dan terbanglah tinggi

Buktikan sayapmu tak berkutu

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: