Laporan Penelitian Pasar Klitikan Pakuncen Yogyakarta


pasar-klitikan-pakuncen Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Setiap masyarakat selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan cepat.

Laporan observasi ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah perubahan sosial budaya. Laporan ini adalah hasil dari pengamatan yang kami lakukan bersama di objek pasar klithikan, Wirobradjan, Yogyakarta. Kami melakukan pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara dengan narasumber yang kami anggap tahu seluk-beluk pasar klithikan pakuncen ini. Kami mengambil narasumber dari pedagang yang ada di pasar klithikan tersebut dan kepala pasar (lurah pasar sebutan dari pedagang), masyarakat sekitar, dan juru parkir. Selain menggunakan metode wawancara,kami juga menggunakan metode observasi non-partisipasi.

Setelah melakukan pengumpulan data-data dengan menggunakan metode yang telah kami jelaskan di atas. Kami mendapatkan hasil, hasil tersebut kami jabarkan dalam bab pembahasan. Untuk memperkuat pembahasan tentang hasil pengamatan kami, kami juga melampirkan foto-foto dokumentasi yang kami ambil ketika melakukan pengamatan di objek yakni Pasar Klithikan Pakuncen.

Perubahan-perubahan pada pasar Klitikan atau yang disebabkannya juga patut dijadikan wadah penelitian. Pasar Klitikan Pakuncen Yogyakarta — sebagai pusat jual-beli barang bekas atau seken (second hand), terletak di Jl HOS Cokroaminoto 34 Pakuncen, Yogyakarta. Walaupun begitu, tidak semua barang yang diperdagangkan disini merupakan barang bekas, sebagian merupakan barang yang baru.

Perelokasian pasar Klitikan, pada tempatnya saat ini tentu memberi berbagai dampak baik positif maupun negatif, baik bagi pembeli (konsumen), para pedagang, maupun bagi warga sekitar pasar yang tergolong masih baru ini. Untuk lebih dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai perubahan sosial yang terjadi itu, selanjutnya kami mencoba menelaah lebih jauh dengan melakukan penelitian ini.

  1. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana sejarah singkat dan deskripsi pasar Klitikan?
  2. Bagaimana perubahan sosial budaya pada pasar Klitikan dan dampaknya bagi masyarakat?

  1. Tujuan

  1. Mengetahui sejarah singkat dan deskripsi pasar Klitikan?
  2. Mengetahui perubahan sosial budaya pada Pasar Klitikan dan dampaknya bagi masyarakat?

Pada intinya bertujuan untuk lebih mengetahui secara mendalam bagaimana perubahan sosial budaya yang terjadi pada Pasar Klitikan Pakuncen Yogyakarta.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sejarah Singkat dan Deskripsi Pasar Klitikan

Istilah klitikan (klithikan) dalam Bahasa Indonesia berarti barang bekas. Seperti namanya, Pasar Klitikan Pakuncen Yogyakarta — sebagai pusat jual-beli barang bekas atau seken (second hand), terletak di Jl HOS Cokroaminoto 34 Pakuncen, Yogyakarta.

Para pedagang di pasar ini menjual bermacam-macam dagangan seperti onderdil kendaraan, peralatan elektronik, barang-barang antik, alat pertukangan, buku, pakaian, bahkan ponsel pun dijajakan di sini. Tak melulu barang bekas, beberapa diantaranya juga menjual barang “baru”.

Pasar Klitikan Pakuncen mewarnai perekonomian Kota Yogya sejak 11 November 2007, tergolong masih baru. Tetapi baru diresmikan oleh Suryadharma Ali pada bulan Desember 2007, yang saat itu menjadi Menteri Negara Koperasi Dan UKM. Pasar ini dibangun untuk merelokasi (menata) para pedagang klitikan yang sebelumnya berjualan di trotoar Jalan Mangkubumi, Jalan Asemgede dan Alun-alun Kidul Kraton Yogya.

Dalam proses relokasi ke Pasar Klitikan ini, para pedagang yang sebelumnya berjualan di ketiga lokasi tersebut sempat khawatir bila nantinya akan sepi pengunjung. Namun, bisnis barang klitikan memiliki konsumen yang loyal, meski lokasi berpindah pengunjung tetap berdatangan setiap harinya dari pagi hingga sekitar pukul 21.00 malam.

Pasare Anyar, Rejekine Lancar — seperti yang tertera pada sign system dibeberapa sudut Pasar Klitikan Pankuncen. Pasarnya baru, tentu saja bangunannya baru sehingga lingkungan pasar masih bersih, tak ada kesan kumuh. Fasilitas cukup memadai, toilet, tempat pakir luas meski pada malam hari libur meluap hingga ke pinggir jalan dan bila anda ingin melepas lelah di ujung timur tersedia los makanan.

Rejeki para pedagang Pasar Klitikan semakin lancar. Kini pengunjung pasar klitikan makin ramai, tak hanya para pelanggan lama tapi dari berbagai lapisan masyarakat juga menyempatkan untuk mampir. Sebagai tambahan informasi, Pasar Klitikan Pakuncen ini dibangun di atas lahan eks Pasar Hewan Pakuncen, kini pedagang hewan direlokasi ke Pasar Hewan Gamping, Sleman.

  1. Perubahan Sosial Budaya pada Pasar Klitikan Pakuncen dan Dampak bagi Masyarakat

Ketika terjadi perelokasian Pasar Klitikan dari tiga tempat yaitu, yang sebelumnya berjualan di trotoar Jalan Mangkubumi, Jalan Asemgede dan Alun-alun Kidul Kraton Yogya. Pada awalnya memang terjadi pro dan kontra dengan berbagai pihak yang bersangkutan seperti, antara Pemerintah Kota Yogyakarta, para pedagang, dan masyarakat sekitar.

Pemerintah Kota merencanakan relokasi agar kota lebih tertib dan tertata rapi,sedangkan para pedagang awal mulanya ketakutan dengan perelokasian tersebut maka dagangannya akan sepi dari konsumen, sedangkan dari masyarakat sekitar sendiri ada yang setuju dan tidak setuju, yang setuju menyatakan bahwa lokasi tersebut yang dahulu merupakan pasar hewan lebih banyak memberi dampak negatif seperti bau yang tidak sedap dan tempatnya yang di tengah kota dinilai sudak tidak representatif sebagai pasar hewan, sedangkan masyarakat yang tidak setuju dengan perelokasian menyatakan bahwa dengan perelokasian ini, khawatir dengan dampak-dampak negatif oleh perelokasian ini kepada mereka. Seperti, bagi masyarakat sekitar yang mempunyai pekerjaan sebagai pedagang sapi, tidak bisa menjual hewannya di daerah tersebut, keamanan daerah sekitar pasar dan sebagainya.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perubahan sosial budaya yang terjadi karena perelokasian pasar ini, kami mewawancarai berbagai sumber diantaranya: 2 orang pedagang, 1 orang juru parkir, Lurah pasar, 2 orang konsumen, dan 2 orang masyarakat sekitar. Untuk mempermudah laporan penelitian ini, kami membagi perubahan sosial budaya yang terjadi pada Pasar Klitikan Pakuncen berdasarkan tiga perspektif yang di dapat dari beberapa sumber diatas.

  1. Perubahan bagi para pedagang

Dengan adanya relokasi ini, status pedagang mengalami perubahan, yang dahulu status mereka merupakan PKL (Pedagang Kaki Lima), tetapi sekarang berubah menjadi pengusaha karena mereka membuka usaha atas namanya sendiri dan tidak lagi menempati garasi, depan gerbang rumah warga, dan trotoar seperti dahulu.

Selain itu omzet para pedagang secara umum mengaku mengalami kenaikan, mengingat tempat yang cukup representatif untuk melakukan transakasi jual beli dikarenakan cukup bersih, terspesialisasi, dan telah memiliki sarana prasarana yang cukup memadai. Walaupun demikian, menurut salah satu pedagang yang kami wawancarai mengatakan relokasi ini tidak serta merta menaikkan omzet pemasukannya, dikarenakan Pasar Klitikan Pakuncen sendiri merupakan relokasi dari tiga Pasar yang secara pasti menambah saingan, pedagang pasar Klitikan Pakuncen ini seluruhnya berjumlah 718, 697 dari tiga pasar yang direlokasi, dan 21 lapak atau pedagang yang disediakan bagi masyarakat rt/rw di sekitar pasar.

Yang mencengangkan, para pedagang ternyata mendapatkan pasokan barang dagangan dari berbagai daerah, misalnya Jawa Barat, Riau, Mojokerto, dan sebagianya. Latar belakang para pedagang juga bermacam-macam, tidak hanya berasal dari Yogyakarta saja, bahkan bisa dikatakan hampir 40 % pedagang berasal dari luar Jawa dan luar Jogja, salah satu yang kami temui yaitu pedagang sepatu yang berasal dari Wonosobo.

Tempat atau kios yang ditempati sekarang ini didapat dari pendataan dan pendaftaran dari tempat pedagang yang direlokasi. Kemudian, para pedagang mendapat modal tambahan sebesar Rp. 880.000,00 (Delapan Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah) yang diberikan secara bertahap. Pada tujuh hari pertama sebesar Rp. 40.000, 00. (Empat Puluh Ribu Rupiah) dan sisanya diberikan sebesar Rp. 20.000,00/hari. (Dua Puluh Ribu Per Hari). Hal ini bertujuan agar para pedagang tetap datang ke pasar meski tidak berjualan.

Mengenai retribusi, pasar Klitikan juga menerapkan sistem pungutan pajak atau retribusi. Retribusi ditentukan oleh jenis dagangan, lama jam buka pasar, serta penggolongannya. Penggolongan pasar digolongkan menjadi dua berdasakan Perda no. 02 tahun 2009. Penggolongan tersebut antara lain:

  • Golongan B : Barang dagangan berupa konveksi dan retribusi sebesar Rp. 1575/hari.

  • Golongan C : Elektronik, Klitikan dan retribusi sebesarRp. 900/hari.

Dengan perelokasian ini, para pedagang juga memiliki paguyuban baik menurut jenis barang dagangan, maupun paguyuban seluuh pedagang Klitikan. Paguyuban pedagang seluruh pasar Klitikan ini disebut KOMPAK (Kelompok Pedagang Pasar Klitikan) dimana ketua dipilih dari perwakilan pedagang. Dalam berbagai hal KOMPAK. Lurah pasar juga sering mengadakan event-event atau acara untuk mempromosikan dan meramaikan pasar Klitikan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti BPR, Honda dan sebagainya.

  1. Perubahan bagi para konsumen

Secara general, sebenarnya perelokasian pasar Klitikan ini memberi kesan yang positif bagi para konsumen. Bagi konsumen setelah perelokasian merasakan benar dampak positif dari ini semua diantaranya makin nyamannya proses transaksi jual beli, terspesialisasinya barang-barang yang diperdagangkan menurut blok-blok yang disediakan pengelola. Sarana parasarana yang semakin lengkap seperti, kamar mandi, parkir yang luas dan aman, serta kondisi pasar yang relatif bersih.

Tetapi dari penelusuran lebih lanjut yang kami dapatkan dari dua konsumen yang berbeda, masing-masing mengaku perelokasian Pasar Klitikan menghilangkan beberapa kenangan dan keunikan serta nostalgia dari Jogja, dengan terkesan kurang mempunyai nilai seni, dan harga-harga beberapa barang juga relatif lebih mahal, tetapi secara umum mereka merasa lebih banyak sisi positif daripada negatifnya.

  1. Perubahan bagi masyarakat sekitar

Mengenai perubahan bagi masyarakat sekitar dengan direlokasinya pasar ini, banyak hal yang positif maupun negatif sebagai dampaknya. Salah satu dampak positifnya RT/RW disekitar pasar yang berjumlah 21, disediakan masing-masing satu lapak. Selain itu, bagi warga sekitar paling tidak mengalami peningkatan perekonomian yang meskipun tidak signifikan. Misalnya saja dengan menjadi petugas parkir, petugas pasar musiman, dsb.

Dilihat dari daerah sekitar pasar ini juga terlihat lebih asri dan tertata rapi dari sebelumnya yang menjadi pasar hewan. Warga kawasan Klitikan pun saat ini rata-rata mempunyai nilai tambah, terbukti dengan banyaknya pendirian bangunan berupa toko dan warung-warung makanan di sekitar Klitikan, sebelum direlokasinya Klitikan, hanya ada dua toko disekitar Klitikan, tetapi saat ini dengan ramainya pasar jumlah toko dan warung di sekitar semakin bertambah. Bentuknya pun bermacam-macam seperti toko kelonthong, warung makan, dan counter handphone dan pulsa. Tanah atau bangunan sekitar Klitikan juga mempunyai nilai sewa yang tinggi.

Walaupun banyak dampak positif dari perelokasian pasar, tak dapat dipungkiri banyak juga dampak negatif bagi masyarakat sekitar, seperti diketahui dahulu pasar ini adalah pasar hewan, sehingga masyarakat sekitar yang dahulu mempunyai penghasilan dari berdagang hewan harus rela kehilangan lahan untuk memperdagangkan daganngannya, ada yang masih berpfrofesi sebagai penjual hewan atau blantik, tetatpi juga banyak yang berubah profesi dikarenakan jauhnya relokasi bagi para pedagang hewan ke Pasar Gamping, Sleman Yogyakarta.

Selain itu, dampak negatif yang kami dapat dari narasumber yaitu, terdapatnya perasaan tidak aman dan kebisingan yang berlebihan karena perelokasian pasar ini, mulai yang paling kecil yaitu sering terjadinya kehilangan barang berupa helm yang menurut warga banyak yang dijual ke Klitikan. Kebisingan yang dihasilkan adalah karena ramainya pasar ini, otomatis mengganggu aktifitas masyarakat sekitar, hal ini diperparah dengan pelebaran jalan yang menyertainya sehingga mengakibatkan semakin ramainya kendaraan yang berlalu lalang di depannya.

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: