Laporan Penelitian Terkait Waria


waria-Indonesia

BAB I

Pendahuluan

    1. Latar Belakang

Secara ekstrim, masyarakat kita seringkali hanya mengakui segala hal pada dua wilayah yang saling bertentangan, seperti hitam-putih, kaya-miskin, dan pandai-bodoh. Pada wilayah jenis kelamin dan orientasi seks pun, masyarakat secara diskrit hanya mengakui jenis kelamin laki-laki dan perempuan, laki-laki dengan kemaskulinannya dan perempuan dengan kefeminimannya. Keduanya dikonstruksikan pada posisi masing-masing, dan tidak boleh saling bertukar ataupun meramu dua jati tersebut dalam satu tubuh.

Waria, yang secara fisik mereka adalah laki-laki normal, memiliki kelamin yang normal, namun secara psikis mereka merasa dirinya perempuan layaknya kaum perempuan lainnya, tentunya kelompok ini, sampai saat ini masih dianggap sebagai suatu kelompok atau kaum yang menyimpang oleh sebagian besar masyarakat kita.

Sosiologi sebagai ilmu yang bersifat non-etis, tentunya mempunyai tempat dalam pengkajian kelompok ini. Dilihat dari kacamata sosiologi, kelompok-kelompk ini harus tetap diakui dan dianggap sebagai fenomena sosial sehingga patut untuk dikaji dan diteliti. Kami menganggap penelitian mengenai makalah ini layak dan kemungkinan kecil teman-teman sekelas akan banyak mengeksplorasi masalah ini, maka dari itu kami ketika mendapatkan tugas dari bapak Adi Cilik Pierawan, M. Si, pada mata kuliah sosiologi keluarga langsung menawarkan meneliti mengenai kelompok ini, tentunya dari sudut pandang dan teori-teori sosiologi keluarga.

1.2. Rumusan masalah

1. Bagaimana sosialisasi dalam keluarga sehingga terjadi pembentukan karakter pada waria?

2. Bagaimana respon orang tua ketika mengetahui anaknya sebagai waria?

1.3. Tujuan penelitian

1. Mengetahui lebih jauh peran orang tua dalam pembentukan kepribadian waria terutama dalam hal sosialisasi-sosialisasi nilai dan norma.

2. Mencoba mengaplikasikan dan menerapkan teori yang didapat dalam perkuliahan, pada penelitian langsung dilapangan.

3. Memenuhi tugas mata kuliah sosiologi keluarga sebagai pengganti ujian akhir.

BAB II TEORI

Dalam penelitian ini, kami memakai beberapa teori yaitu,

  1. Teori Ekologis

Teori ini dikemukakan oleh Urie Bronfen Broiner (1917-2005). Teori ini mempunyai asumsi awal bahwa semua sistem individu mempunyai sistem yang beragam yang kompleks dalam konteks sosial. Menurut teori ekologis oleh Urie Bronfen Brainer, keluarga, teman, tetangga, guru sekolah disebut sebagai microsystem atau orang yang berhubungan langsung dengan individu, yang sangat mempengaruhi seorang individu

  1. Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok/masyarakat. Sosialisasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan agar pihak yang dididik atau diajak, kemudian mematuhi kaidah-kaidah, dan nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh masyarakat. Tujuan pokok adanya sosialisasi tersebut bukanlah semata-mata agar kaidah-kaidah dan nilai diketahui serta dimengerti. Tujuan akhirnya adalah agar manusia bersikap dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku serta agar yang bersangkutan yang menghargainya.

Dalam keluarga anak akan mendapatkan fungsi sosialisasi yang akan membentuk kepribadian dan penentu keberhasilan anak. Dan keluarga menjadi faktor penting dalam memahami proses sosial secara umum karena keluarga sebagai unsur inti dalam struktur sosial. Proses sosialisasi merupakan proses belajar sosial yang berlangsung sepanjang hidup, bermula sejak individu lahir hingga mati. Dalam proses sosialisasi ini individu mendapatkan pengawasan, pembatasan, hambatan dari manusia lain atau masyarakat. Tetapi individu juga mendapatkan dorongan, bimbingan, stimulasi, dan motivasi dari manusia lain atau masyarakatnya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian

Penelitian tentang Peran Orang Tua dalam Proses Sosialisasi ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif artinya data yang diperoleh akan dikumpulkan dan diwujudkan secara langsung dalam bentuk deskripsi atau gambaran tentang suasana/keadaan objek secara menyeluruh dan apa adanya berupa kata-kata lisan atau tertulis dari orang atau perilaku yang diamati (Moleong, 1988:3).

Jenis penelitian kualitatif deskriptif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis yang merupakan deskripsi tentang suatu hal. Data-data tersebut diperoleh melalui kegiatan pengamatan di lapangan, dan wawancara. Dengan metode ini diharapkan agar data yang sudah terkumpul selanjutnya dapat disusun menjadi sebuah penelitian ilmiah.

  1. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti mengambil data dari berbagai lokasi, yang pertama yaitu di utara gedung dekanat FISE, yang pada saat itu peneliti bertemu dengan seorang pengamen waria yang bernama Erna, yang kedua adalah waria tetangga desa peneliti tepatnya desa Sembayat Manyar Gresik yang bernama Sandy, narasumber pada obyek penelitian ini tidak bisa langsung wawancara karena jarak dan waktu, sehinngga peneliti menelpon dan sms melalui ibu saya yang kebetulan gurunya waktu SMP, dan teman peneliti yang sekaligus tetangganya, dan yang ketiga berlokasi di sebuah salon, di daerah Papringan Yogyakarta, yang narasumbernya bernama Mita.

  1. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang sesuai dengan penelitian diperlukan teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan peranan manusia sebagai instrumennya, mulai dari observasi, wawancara, pengumpulan data sampai pelaporan hasil penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Observasi

Pengamatan (observasi), yaitu cara pengumpulan data dengan melibatkan hubungan interaksi sosial antara peneliti dan informan dalam suatu latar penelitian (pengamatan objek penelitian di lapangan). Pengamatan dilakukan dengan mengamati dan mencatat semua peristiwa. Cara ini bertujuan untuk mengetahui kebenaran/fakta yang ada di lapangan (Moleong, 1988:125-126). Metode observasi ini peneliti lakukan terutama pada kehidupan waria pada kesehariannya. Metode ini kurang bisa peneliti terapkan pada kehidupan waria di Yogyakarta karena keterbatasan peneliti mengetahui seluk beluk kehidupan waria di Yogyakarta, tetapi metode ini lebih peneliti tekankan pada obyek penelitian waria yang kebetulan tetangga desa peneliti

  1. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam yaitu cara penelitian dengan wawancara antara peneliti dan informan secara nonformal, artinya peneliti melakukan tanya jawab dengan informan menggunakan bahasa santai seperti berbicara biasa. Hal ini bertujuan agar antara peneliti dan informan tidak ada jarak sehingga tanya jawab berlangsung santai (Moleong, 1988:136).

Jadi wawancara merupakan percakapan antara kedua belah pihak secara langsung/bertatap muka dengan cara pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Teknik wawancara ini dipilih peneliti dengan alasan lebih fleksibel sehingga pewawancara/peneliti dapat memodifikasi, mengulangi, menguraikan, dan dapat mengikuti jawaban responden asal tidak menyimpang dari topik penelitian.

Tujuan wawancara ini adalah untuk mengetahui data secara langsung dari responden mengingat dalam observasi masih ditemukan data yang kurang jelas. Secara rinci wawancara dilakukan peneliti kepada anak yang mengalami peristiwa yang menjadi obyek penelitian.

Metode wawancara ini terutama kami lakukan pada dua narasumber yaitu Erna yang seorang pengamen ketika bertemu peneliti di utara dekanat FISE ketika peneliti sedang makan, dan narasumber yang bernama Mita yang bekerja di salon daerah Papringan Yogyakarta.

BAB IV

PEMBAHASAN

Waria, dalam konteks psikologis, termasuk penderita transeksualisme, yakni seorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas dan sempurna. Namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis.1

Sampai saat ini kehidupan waria masih belum bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat kita, bahkan keluarga mereka sendiri, padahal pembentukan kepribadian seorang pria menjadi waria ternyata juga dipengaruhi oleh sosialisasi yang salah oleh agen-agen sosialisasi termasuk keluarga.

Menurut teori ekologis oleh Urie Bronfen Brainer, keluarga, teman, tetangga, guru sekolah disebut sebagai microsystem atau orang yang berhubungan langsung dengan individu, yang sangat mempengaruhi seorang individu. Keluarga dalam banyak literatur mengenai sosialisasi juga disebutkan sebagai agen sosialisasi yang paling penting diantara semua agen-agen sosialisasi.

Berdasarkan data yang kami dapatkan melalui wawancara dan pengamatan yang kami lakukan, hal diatas memang benar adanya, walaupun peran keluarga secara presentase tidak bisa dijelaskan secara pasti dan yang pasti berbeda antar masing-masing individu. Seperti yang terjadi pada Erna, seorang waria yang kesehariannya mengamen yang kami wawancarai di utara FISE ini mengatakan bahwa sejak kecil dia lebih suka bermain permainan perempuan seperti main boneka, menjahit dan bermain pasaran daripada permainan anak laki-laki seperti main bola, dan main layang-layang, Erna pun lebih senang bermain dengan anak perempuan daripada anak laki-laki. Tetapi hal ini luput dari perhatian orang tuanya, bahkan membiarkan dan tidak menegurnya sama sekali karena mengganggap dia belum mengerti dan belum dewasa saja, terang Erna. Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga Erna merasa mendapatkan legalisasi dari orang tuanya, dan membawa dampak sampai sekarang. Wawancara kami saat itu cukup singkat karena terbentur kesibukan kami masing-masing, saya ada kuliah dan Erna melanjutkan mengamen, akhirnya pertemuan kami saya akhiri dengan memberi ucapan terima kasih dan sedikit uang untuk pengganti waktunya.

Contoh kasus lain adalah terjadi di tetangga desa saya, tepatnya desa Sembayat kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, untuk kasus ini saya tidak bisa melakukan wawancara secara langsung dikarenakan terkendala jarak yang jauh, tetapi kami mendapatkan data dari keterangan ibu saya sewaktu saya SMA kelas dua dulu. Ibu saya yang seorang guru SMP swasta di daerah saya adalah guru seseorang yang sekarang menjadi waria yang biasa dipanggil Sandy, dia saat ini telah membuka salon dengan tiga orang pegawainya yang semuanya adalah seorang waria. Menurut keterangan ibu saya, tanda-tanda keanehan Sandy sudah terlihat sejak SMP kelas satu, dan semakin terlihat ketika menginjak kelas dua SMP, ibu saya yang waktu itu sebagai wali kelas Sandy, yang nama aslinya ahmad wujud, sering menegurnya karena ketika sekolah sering ketahuan memakai bedak dan lipstik. Menurut penjelasan ibu saya ketika ditegur ataupun diejek teman-teman sekelasnya wujud atau Sandy tidak pernah mengindahkan, bahkan tak jarang langsung menangis dengan sangat keras, sehingga ibu saya tidak berani menegur lagi. Tetapi sebagai wali kelas, ibu saya mendatangi rumah Sandy, yang bertetangga desa dengan saya untuk menanyakan kepada orang tuanya dan menceritakan perihal kejadian ini kepada beliau. Menurut penjelasan ibunya, “dahulu almarhum bapaknya sebelum meninggal sering bertengkar dengan saya, bahkan tak jarang memukul saya, hal ini juga kerap terjadi pada Ahmad Wujud, bapaknya sering memarahi dan memukulnya, ketika kejadian itu sudah berulang kali berlangsung, Ahmad Wujud selalu mendatangi saya dan berkata benci sama bapak, dan gak mau menjadi seperti bapak. Setelah bapaknya meninggal saat Ahmad Wujud duduk di kelas satu SMP, keanehan-keanehan pada diri dan tindak tanduk Ahmad Wujud mulai sangat kelihatan, ketika saya melarang dan memarahinya dia selalu marah-marah dan langsung menagis, sehinngga saya tidak pernah memarahinya lagi, dan saya mengharap kemakluman pihak sekolah.” Kurang lebih demikian keterangan ibu dari Ahmad Sandy kepada ibu saya sekitar lima belas tahun lalu. Hal ini kami tanyakan kepada ibu saya lewat telepon, dan sms.

Yang saya ketahui Ahmad Wujud atau Sandy, sejak empat tahun yang lalu telah membuat salon kecil di depan rumahnya, dengan tiga pegawainya kesemuanya adalah waria. Saya juga pernah sekali potong rambut di salonnya tepatnya saat kelas dua SMA. Respon dari pihak keluarga maupun masyarakat sekitar terlihat sudah baik dan telah bisa menerima kehadirannya di tengah-tengah masyarakat, hal ini bisa terlihat dengan cukup ramainya salon yang dia punya. Berdasarkan keterangan yang kami dapat dari teman saya sekaligus tetanggannya, yang kami hubungi lewat telpon dan sms, Sandy dalam masyarakat diposisikan sebagai perempuan dan para tetangganya biasa memanggil dengan sebutan mbak, pun demikian ketika ada kegiatan warga, Sandy seringkali diposisikan sebagai seksi konsumsi atau ambil bagian dalam urusan-urusan perempuan daripada laki-laki.

Satu contoh kasus lagi yang kami dapatkan adalah kasus dari narasumber yang mengaku bernama Mita kelahiran 22 Juli1984. Waria yang bekerja disebuah salon di daerah Papringan Yogyakarta. Menurut waria kelahiran kota Medan ini, hampir mirip dengan yang terjadi pada kasus pertama, yaitu Mita dari kecil memang lebih suka bermain permainan perempuan seperti boneka, dan lain sebagainya. Hal ini juga didukung dengan jarangnya anak seusianya di sekitar yang berjenis kelamin laki-laki, kebanyakan anak seusianya berjenis kelamin perempuan, ditambah lagi anak terakhir dari empat bersaudara ini adalah satu-satunya anak laki-laki di kelurganya.

Masih menurut Mita, orang tua mereka, terutama ayahnya jarang dirumah dan sering keluar kota untuk keperluan bisnis, sedangkan ibunya tiap harinya menjaga toko yang cukup besar di pasar di daerahnnya. Pengawasan yang jarang, ditambah kondisi lingkungan yang kurang mendukungnya sebagai laki-laki ditambah perlakuan orang tuanya yang menyamakannya dengan kakak-kakak perempuannya menjadikan jiwa feminim Mita muncul, ketika kira-kira kelas satu SMA, dia sekali-kali memakai lipstik, bedak, bahkan mencoba pakaian kakaknya. Pada waktu kelas tiga SMA bahkan Mita sudah mempunyai koleksi lipstik, bedak, dan pakaian perempuan sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, ayahnya yang kemudian mengetahuinya kemudian membakar semua koleksi Mita itu, hati Mita yang juga sama-sama kerasnya dan sudah tertanamnya sisi wanita di dalam dirinya membuat hati dan jiwanya bergejolak. Dia keluar dari rumah selama beberapa bulan ke rumah teman ceweknya. Orang tuanya pun seolah-olah tidak mencarinya lagi, tandasnya. Akhirnya Mita ikut ke Yogyakarta bersama teman ceweknya, Dini yang merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya Mita ke Yogyakarta, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pada awal di Yogyakarta, Mita bekerja sebagai pelacur atau nyebong, tetapi setelah lima tahun berada di Yogyakarta, Mita yang memang mempunyai keterampilan mencukur rambut menjadi pekerja salon di salon milik temannya di daerah Papringan. Kami meminta keterangan pun dengan mampir ke salonnya dan dengan cukur rambut.

Dari ketiga kasus yang kami teliti diatas ditambah dengan dari beberapa sumber buku, memang agak sulit memandang permasalahan waria ini hanya dari aspek sosiologis, karena sangat tipis dengan aspek psikologis, tetapi disini kami akan coba membatasi penjelasan dari aspek sosiologis, meskipun tidak menutup kemungkinan sedikit banyak menyinggung aspek psikologis dan lainnya.

Jika dilihat dari teori ekologis, keluarga, teman, tetangga, guru sekolah, sebagai mirosytem adalah orang-orang yang paling berpengaruh karena berhubungan langsung dengan individu, hal ini memang terjadi seperti kasus-kasus diatas, kami disini membatasi penelitian di kisaran peran keluarga tetapi tidak menutup kemungkinan microsytem yang lain, mesosytem yang berlangsung antar microsystem, exosystem yang ada dan berlangsung, Macrosytem yang ada, ataupun chronosystem tidak mempengaruhi pada perkembangan seorang pria menjadi waria. Hal ini untuk mempermudah kami dalam melakukan penelitian lapangan yang pertama kali kami lakukan ini. Dari beberapa kasus diatas, jelas terlihat keluarga mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan pria menjadi seorang pria, para waria kebanyakan tidak mendapatkan pengajaran prilaku oleh keluarga sebagai seorang pria, mereka pada masa kecil dibiarkan bermain seperti perempuan. Sedangkan yang terlihat pada kasus ketiga, Sandy malah sering melihat ibunya dimarahi ayahnya, dan dia juga sendiri sering dimarahi ayahnya, sehingga timbul kebencian terhadap sosok atau figur ayahnya yang pada akhirnya membentuk dia menjadi seorang pria. Pembentukan kepribadian waria menjadi seorang pria, juga dimungkinkan karena terjadinya single parent. Seperti yang dialami Dorce, dalam wawancara di sebuah stasiun televisi swasta yang saya lihat kira-kira satu bulan yang lalu, Dorce menjelaskan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa proses pembentukan dirinya menjadi seorang waria sangat dipengaruhi masa kecilnya, karena Dorce ditinggal meninggal oleh ibunya dan bapaknya sejak usia 4 tahun, setelah itu dia dirawat neneknya. Dalam pengasuhan neneknya itulah awal mula proses pembentukan kepribadiannya menjadi seorang waria.

Dalam setiap masyarakat dan kebudayaanpasti ada perbedaan peran-peran individu yang diharapkan oleh masyarakat dari pria dan wanita. Keduanya secra biologis berbeda, karena itu peran-peran yang diharapkan masyarakat pun secara sosiologis bebeda dan karenanya, sosialisasinya pun harusnya berbeda.

Menurut Scanzoni, pria diharapkan melakukan peran yang bersifat instrumental yaitu berorientasi pada pekerjaan untuk memperoleh nafkah (task oriented), sedang wanita harus melakukan peran yang bersifat ekspresif, yaitu berorientasi pada emosi manusia serta hubungannya dengan orang lain (people oriented), oleh karena itu anak laki-laki disosialisasikan untuk menjadi lebih aktif dan tegas, sedang anak perempuan lebih pasif dan tergantung. Hal ini disebabkan pria harus bersaing dalam masyarakat yang bekerja, sedangkan wanita menjadi istri dan ibu bagi keluarganya. 2

Sejak awal kehidupannya secara biologis bayi laki-laki dan perempuan memang sudah berbeda. Orang tua ingin menunjukkan identitas anaknya sesuai dengan jenis kelaminnya, misalnya nama anak, permainan, pakaian, potongan rambut, dan sebagaianya. Masalahnya disini apakah orang tua memperhatikan hal-hal tersebut? mungkin ketika mengenai nama, pakaian, dan potongan rambut mereka masih memperhatikan, tetapi jika sudah mengenai permainan, peer group, pembedaan cara pengasuhan, dan lain sebagainya kurang diperhatikan oleh orang tua. Padahal usaha-usaha diatas adalah upaya pembentukan peran-peran yang berbeda dengan pria bukan hanya secara biologis saja, namun scara sosiologis, psikologis.

Kehadiran waria di dalam sebuah keluarga merupakan sebuah proses historis. Pembentukan kepribadian waria merupakan proses yang cukup panjang, dimulai dari masa anak-anak hingga menginjak masa remaja. Munculnya fenomena kewariaan tidak lepas dari sebuah konteks kultural. Kebiasaan-kebiasaan pada masa anak-anak ketika mereka dibesarkan di dalam keluarga, kemudian mendapat penegasan pada masa-masa remaja, menjadi penyumbang terciptanya waria. Cara mereka dibesarkan dengan nilai dan norma tertentu menjadi satu gambaran yang sangat khas, yang kemudian akan membedakan dengan cara-cara anak normal dibesarkan.

Akibat cara-cara itu, perilaku yang dipresentasikan pada masa anak-anak akhirnya menunjukkan ciri yang berbeda pula dibanding teman-teman sebaya lainnya. Namun demikian, tanda-tanda yang berbeda tersebut tidak pernah disadari oleh orang tua mereka, sehingga ketika perilaku itu menjadi perilaku yang menetap pada masa menginjak remaja, kesadaran muncul di kemudian hari. Satu hal yang menyebabkan tidak disadarinya perbedaan perilaku itu adalah tradisi dalam memamndang perilaku anak umumnya, yang masih diannggap belum mengerti atau belum dewasa, sehingga menyebabkan hal-hal tersebut dianggap wajar. Hal ini diperkuat dengan penelitian oleh Koeswinarno yang dibubukan oleh LkiS.

Dari kasus-kasus diatas, dapat dilihat bahwa tidak satupun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak. Proses menjadi waria diawali dengan satu perilaku yang ditampilkan pada masa kanak-kanak melalui pola bermain dan bergaul. Namun demikian, perilaku-perilaku yang ditampilkan pada masa kanak-kanak tidak disadari sebagai perilaku yang “menyimpang:” di mata orang tua, karena itu perilaku tersebut kemudian menjadi menetap. Walaupun ada satu kasus diatas, seperti yang dialami sandy, yang “menjadi waria” karena benci terhadap sang ayah, tapi hal itu sulit dijelaskan karena terlalu berhubungan dengan psikologis.

Bagaimana respon orang tua atau keluarga dengan kehadiran waria dalam keluarga pun bermacam-macam, dari tiga narasumber yang kami wawancarai, dan kamai amati, 1 orang menerima, yaitu Sandy, waria di tetangga desa saya, Sembayat Manyar Gresik, sedangkan 2 orang, keluarga tidak menerima mereka seperti yang dialami Erna dan Mita. Sedangkan menurut keterangan beberapa teman yang mempunyai tetangga seorang waria, rata-rata menyatakan bahwa keluarga mereka tidak menerima kehadiran mereka ditengah-tengah keluarga, ataupun tetangga mereka adalah seorang waria yang bisa dikatakan keluar dari rumah asli mereka dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Sedangkan keluarga yang menerima kehadiran seorang waria, rata-rata itupun karena seorang waria tersebut sudah mempunyai prestasi-prestasi tertentu seperti memiliki salon, bekerja di salon, dan sebagainya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari kasus-kasus diatas, dapat dilihat bahwa tidak satupun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak. Proses menjadi waria diawali dengan satu perilaku yang ditampilkan pada masa kanak-kanak melalui pola bermain dan bergaul. Namun demikian, perilaku-perilaku yang ditampilkan pada masa kanak-kanak tidak disadari sebagai perilaku yang “menyimpang:” di mata orang tua, karena itu perilaku tersebut kemudian menjadi menetap. Walaupun ada satu kasus diatas, seperti yang dialami sandy, yang “menjadi waria” karena benci terhadap sang ayah, tapi hal itu sulit dijelaskan karena terlalu berhubungan dengan psikologis. Orang tua ternyata mempunyai peran tidak sedikit dalam pembentukan kepribadian menjadi seorang waria, orang tua seorang waria rata-rata lalai memberikan sosialisasi peran menurut jenis kelamin (gender role position) pada anak, orang tua kurang memperhatikan hal ini disebabkan banyak faktor, yang pada intinya orang tua kurang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan sosiologis, psikologis dari anak terutama pada waktu kecil, sehingga pada akhirnya perilaku-perilaku menyimpang ini akhirnya menetap. Tetapi perlu diingat yang berperan dalam pembentukan kepribadian pria menjadi seorang waria bukan hanya orang tua, melainkan juga teman, tetangga, guru sekolah, sebagai mirosytem adalah orang-orang yang paling berpengaruh karena berhubungan langsung dengan individu, hal ini memang terjadi seperti kasus-kasus diatas, kami disini membatasi penelitian di kisaran peran keluarga tetapi tidak menutup kemungkinan microsytem yang lain, mesosytem yang berlangsung antar microsystem, exosystem yang ada dan berlangsung, Macrosytem yang ada, ataupun chronosystem tidak mempengaruhi pada perkembangan seorang pria menjadi waria. Hal ini untuk mempermudah kami dalam melakukan penelitian lapangan yang pertama kali kami lakukan ini. Seperti misalnya saat ini, KPI dan Komnas Perlindungan Anak melarang tayangan televisi tidak memperbolehkan menampilkan adegan-adegan yang menunjukkan perilaku seorang waria mulai akhir tahun lalu. Karena hal ini sangat mempengaruhi kepibadiaan anak dalam proses tumbuh kembangnya.

Respon orang tua atau keluarga dengan kehadiran seorang waria dalam keluarga pun bermacam-macam, dari tiga narasumber yang kami wawancarai, dan kamai amati, 1 orang menerima, yaitu Sandy, waria di tetangga desa saya, Sembayat Manyar Gresik, sedangkan 2 orang, keluarga tidak menerima mereka seperti yang dialami Erna dan Mita. Sedangkan menurut keterangan beberapa teman yang mempunyai tetangga seorang waria, rata-rata menyatakan bahwa keluarga mereka tidak menerima kehadiran mereka ditengah-tengah keluarga, ataupun tetangga mereka adalah seorang waria yang bisa dikatakan keluar dari rumah asli mereka dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Sedangkan keluarga yang menerima kehadiran seorang waria, rata-rata itupun karena seorang waria tersebut sudah mempunyai prestasi-prestasi tertentu seperti memiliki salon, bekerja di salon, dan sebagainya.

Saran

  • Orang tua patutnya lebih memperhatikan lagi tumbuh kembang anaknya terutama dalam pemeberian sosialisasi peran menurut jenis kelamin (gender-role sozialition).
  • Ketika orang tua mulai menemukan tanda-tanda keanehan pada anaknya, sepatutnya mereka segera bertindak seperti menekankan berupa sangsi berupa hukuman atau penghargaan, hal ini akan mendorong anak bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya. Dengan sangsi dan penghargaan anak didorong untuk bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya.
  • Anak yang sudah terlanjur menjadi waria, sepatutunya orang tua berusaha menyembuhkannya dengan membawa ke psikiater dan tidak dengan langsung mengusirnya. Dan apabila berbagai usaha yang dilakukan tidak mendapatkan hasil, sebaiknya anak tersebut diikutkan kursus menjahit, salon, dan lain sebagainya.
  • Orang tua selalu melakukan pendampingan pada anak pada saat melihat TV, dengan memberikan arahan dan bimbingan.
  • Orang tua terutama ayah, dapat memberi contoh kongkrit dalam kehidupan sehari-hari bagaimana menjadi seorang pria sejak kecil hingga seorang anak dewasa.
  • Berkaitan dengan tugas penelitian ini, kami mempunyai saran tugas penelitian seperti ini semakin dikembangkan dengan ditambah dari segi kwalitas ataupun kwantitasnya, karena memberi pelajaran berupa pengalaman langsung terhadap mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, L. J. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Koeswinarno. 2004. Hidup Sebagai Waria. Yogyakarta: LKiS.

T.O. Ihromi. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

William. J. Goode. 1983. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT Bina Aksara

Drs. J. B. A. F. Mayor Polak. 1974. Sosiologi Pengantar Ringkas. Jakarta:PT. Ichtiar Baru

1 Koeswinarno. 2004. Hidup Sebagai Waria. Yogyakarta. LkiS. Hlm.12

2 T. O. Ihromi (penyunting). 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. 44

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: